Senin, 09 April 2012

Danau batas Desa

Lihat danau itu sangat indah
Ombaknya seperti ombak laut
Ikannya sangat banyak
Bapak-bapak yang berjejer dipinggirnya sangat serius memengangi kail
Rupanya danau itu mereka jadikan tempat menghilangkan penat
Memang keindahan danau itu tak dapat diragukan lagi apalagi dipinggirnya tumbuh berjejer pohon jati yang membuat sejuk dan cocok untuk berteduh sambil

memancing atau untuk sekedar duduk-duduk saja, tapi sekarang keindahan itu sudah memudar airnya yang bening lama-kelaman berubah menjadi keruh, penyebabnya penduduk sekitar yang membuang sampah sembarangan ke sungai dan sampah itu kini tertampung di danau indah itu. Lama-lama kelamaan populasi ikannyapun semakin memilukan, sekarang orang yang meancing dipinggir danau sudah jarang mendapatkan ikan, karena ikan-ikan sudah menjadi bangkai akibat diracun, pelakunya sama yaitu warga sekitar yang menabur racun ikan di hulu sungai, mereka sepertinya sangat senang melakukan tradisi meraciun ikan, memang sangat mudah sekali mereka mendapatkan banyak ikan, tapi mereka tidak sadar racunnya mengalir kedanau ikan-ikan disana jadi ikut kena imbasnya.

Lambat laun kisah masa kecilku yang aku habiskan dengan memancing, kejar-kejaran sambil mencari keong  untuk makanan itiku yang kelaparan dipinggir danu itu akan menjadi kenangan, sepertinya danau yang dulu indah kini menjadi lautan yang dipenuhi tanaman air sejenis Eichhornia crassipes.  Orang-orang di desaku menyebutnya Eceng Gondok, tanaman air yang mengapung diatas danau itu populasinya semakin banyak samapi-sampai air danau tidak kelihatan lagi. Aku sangat sedih sekarang aku tidak bisa lagi bermain disana danau itu sudah tak indah lagi, tak ada yang mau mengurusnya lagi, bahkan sekarang menjadi seram, semak belukar  dipinggir danau itu membuat aku takut untuk kesana, ditambah ada bekas penggalian pasir yang amat dalam, aku jadi tambah takut untuk bermain disana lagi, bahkan kata orang-orang dibekas penggalian pasir yang berada di sebelah selatan danau itu pernah muncul kura-kura raksasa dan ikan mas yang besarnya sebesar tubuhku, aku jadi semakin takut untuk kesana.
danau itu sangat tersiksa, sepertinya dia selalu berteriak kepadaku “tolong aku, jangan biarkan mereka mengotoriku lagi” aku hanya anak kecil yang tak bisa berbuat apa, tapi danau itu terus merengek “jangan racun temanku, jangan ambil pasirku, jangan buang sampah ditempatku, jangan kotori aku” danau indah itu kini berubah menjadi lautan hijauh eceng gondok dan pingir sebelah kanan danau itu terpampang plang “hati-hati bekas galain pasir!!!”. Lubang-lubang besar dan dalam dipinggir danau itu terbengkalai perusahaan yang mengambil pasir disana tak bertanggung jawab, mereka meninggalkannya begitu saja, dan sekarang lubang-lubang itu sudah terlanjur terisi air, sangat berbahaya  jika ada orang berenang disana dalamnya mencapai tiga puluh meteran lebih. Dulu waktu perusahaan penggalian pasir itu beroprasi aku pernah melihat mesin penyedot pasir yang terbuat dari besi yang di julurkan kebawah dan dibawah ada beberapa orang bersiap menjalankan tugasnya, ya aku meliah pegawai tambang pasir itu sangat kecil sekali kalau dilihat dari atas memang cukup dalam dan besar lubang galian pasir itu, sampai-sampai aku ngeri melihatnya. 

Sekarang tinggal bekasnya dan bekasnya itu meninggalkan ketakutan, aku takut ada orang yang tidak tahu lalu dia berenang dibekas penggalian itu, karena plang peringatan sepertinya hilang dirusak seseorang.  air bening digalaian itu menjadi tanda bahwa itu dalam, pinggirnya semak belukar menjadi tanda jarang ada orang bermain disini, aku dan teman-temanku baru sekali melihat bekas galian pasir itu sungguh sangat memilukan bekasnya menyisakan kerusakan, bentuk danau sekarang jadi berubah tidak seperti dulu.

"serem bil"

"iya kok sekarang tempat ini jadi angker gini" aku sedikit ciut saat melihat suasana danau yang sepi dan dikelilingi semak belukar.

"kita pulang aja ah!"

"iya aku takut.. ayo!" kami urungkan niat kami untuk memancing disana, dalam pikiranku jika terjadi apa-apa pada kami berdua kayaknya mustahil ada yang menolong, karena saat itu tak kulihat satu orangpun disana. kamipun langsung bergegas pergi....

0 komentar:

Posting Komentar

 
;